Masih terngiang di kepala ini ketika duduk di bangku SMA. Salah seorang guru agamaku pernah mengatakan bahwa “Pada zaman rasulullah saw. masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah saja bagi umat Islam. Namun masjid juga dijadikan sebagai pusat belajar keagamaan.”
Bukan suatu hal yang aneh jika ketika itu masjid betul-betul terasa ramai dan para jamaahnya terlihat makmur.
Bagaimana dengan kondisi masjid saat ini?
Sudah makmurkan jamaahnya?
Jumlah masjid kini jauh berbeda dengan masjid ketika zaman Rasulullah saw. Keberadaannya pun hampir ada di setiap desa. Sekarang Jumlahnya mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu menurut Jawa Pos. Meskipun begitu jika dibanding dengan jumlah umat Islam yang ada di Indonesia masih sangatlah kurang. Mungkin berdasarkan hal tersebut di atas, kini banyak sekali masjid dibangun di sana sini, baik itu skala renovasi maupun bongkar total.
Apakah pembangunan masjid sudah mencerminkan bahwa masjid itu makmur?
Sebagai indikator yang paling ringan bahwa masjid itu dikatakan makmur jika masjid tersebut memiliki jamaah 1/2 dari luas wilayah masjid itu sendiri ketika pelaksanaan shalat wajib. Nah sudahkan masjid-masjid yang ada disekitar kita memiliki jamaah seperti di atas yaitu 1/2 dari luas wilayah masjid.
Solusinya bagaimana?
Yang jelas dengan cara mengembalikan lagi fungsi masjid seperti zaman Rasulullah saw. yaitu selain menjadikan masjid sebagai saran ibadah wajib juga menjadikannya sebagai sentral belajar keagamaan. Sebagai salah satu contoh yaitu dengan mendirikan TPQ (Taman Pendidikan Al Quran) serta madratsah Diniyah.
Kenapa TPQ dan Madratsah Diniyah?
Dengan mendirikan TPQ terlebih dahulu serta menjadikan anak-anak sebagai sasaran utamanya maka secara tidak langsung masjid akan terasa ramai. Lain dari pada itu dikarenakan anak-anak memiliki daya tarik sendiri dalam memikat orang tua untuk ke Masjid.
Dengan adanya TPQ di masjid sudah berarti kader aktifis masjid telah tersedia. Kenapa bisa demikian, sebagai contoh semakin sering anak-anak ke masjid maka anak-anak akan semakin mengenal masjid. Dan semakin mengenal masjid maka rasa sayang dan cinta masjid akan tumbuh dengan sendirinya. Yang InsyaAllah pada akhirnya nanti ia akan menjadi seorang aktifis yang cinta masjid.
Mungkin ini sekelumit kisah dan pengalaman pribadi dalam meramaikan masjid. Semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan.


